Kuni Cra Liya o Wangi-Wangi

Kuni Cra Liya o Wangi-Wangi
Pohon Melai

Rabu, 26 Oktober 2011

LEMBAGA FORUM KOMUNIKASI KABALI INDONESIA AKAN MENGGARAP PROYEK KEBUDAYAAN DARI KEDUTAAN BELANDA

OLEH : ALI HABIU



Kantor Kedutaan Besar Belanda di Jakarta


Sesuai dengan Program kerja sebagai penjabaran Visi dan Misi Lembaga Forum Komunikasi KabaLI yakni melestarikan dan mengambangkan nilai-niai kebudayaan daerah Liya, maka hanya akan bisa terwujud dengan nyata bila ada dukungan keuangan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Lembaga Forum Komunikasi KabaLI tidak bisa terlalu banyak mengharap atas adanya bantuan dana melalui APBD Pemerintah Kabupaten Wakatobi sebab kenyataannya hingga saat ini pemerintah Wakatobi tidak mau peduli atau sangat anti pati terhadap pengembangan kebuayaan Liya. Padahal kalau kita mau pikir-pikir secara realitas bahwa potensi budaya Liya adalah paling kompleks dan paling lengkap jika dibandingkan dengan potensi budaya yang dimiliki oleh Kaledupa, Tomia, Binongko dan Wangi-Wangi lainnya. Tapi kita tak perlu putus asa masih banyak jalan menuju roma bila kita mau berusaha dan mau memperjuangkannya.

Kerja Sama Budaya Indonesia dan Belanda
Indonesia dan Belanda menjalin suatu ikatan Budaya yang istimewa, yang berbentuk dari ikatan historis antara kedua negara. Indonesia merupakan salah satu negara prioritas dalam keijakan internasional Belanda di bidang Budaya. Dalam beberapa tahun ini kerja sama ini semakin dalam dan melebar. Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta, Eramus Juis yang mempromosikan baik budaya Belanda maupun Indonesia, adalah salah satu bentuk kerja sama internasional Belanda dengan Indonesia di bidang budaya.

Budaya dan Pembangunan
Pada tahun 2004, sebuah program baru "Program Budaya dan Perkembangan" atau "Culture and Development Programme" mulai diperkenalkan di Indonesia untuk memperkuat aspek budaya dalam kerja sama pembangunan. Program ini bertujuan untuk mendukung proyek-proyek yang merupakan inisiatif baru bersifat sementara dengan maksimal tenggang waktu 3 (tiga) tahun dan dengan maksud untuk memajukan identitas budaya di negara-negara berkembang.

Permohonan subsidi harus memenuhi persyaratan berikut ini :
  1. Kedutaan akan memberikan bantuan dana hingga maksimum 75% dari total biaya proyek, sementara total biaya proyek harus berjumlah antara 20.000 golden - hingga 100.000 golden setahun;
  2. Proyek itu harus mengarah kepada pelatihan dan pendidikan bagi orang-orang yang berkecimpung di sektor budaya atau lebih umumnya mengarah pada penguatan infrastruktur budaya di Indonesia;
  3. Pada dasarnya permohonan biaya hanya bisa diajukan oleh organisasi-organisasi Indonesia;
  4. Agar permohonan anda dapat dipertimbangkan untuk memperoleh dana dari program Culture and Development Programme ini, semua pertanyaan dalam formulir permohonan dan contoh rincian anggaran harus dijawab sejelas dan selengkap mungkin. Disamping formulir permohonan, penjelasan lengkap tentang proyek tersebut harus juga disertakan;
  5. Permphonan harus diajukan paling lambat dua bulan sebelum proyek dmulai. Formulir dan/atau rincian anggaran yang tidak lengkap tidak akan dipertimbangkan.
Kepada semua Pengurus Cabang Lembaga Forum Komunikasi KabaLI di Indonesia diminta sikap dan kerja sama dalam mengembangkan dan mendapatkan bantuan dari Culture and Development Programme ini agar pelatihan seni budaya Liya termasuk para pelatih seni budaya Liya yang berada di wilayahnya masing-masing bisa digarap dan dikembangkan sehingga masing-masing daerah terdapat potensi Seni Budaya Liya dalam lingkungan masyarakat Liya diperantauan. ****

Diposkan oleh opinionpublikator.blogspot.com di 03.53 0 komentar Link ke posting ini
Label: bantuan belanda

Tidak ada komentar: